Mobil Nyeberang Dipungut Rp 200 Ribu

  • Bagikan

KUALA KAPUAS/tabengan.com – Pasca musibah ambruknya jembatan di ruas jalan kabupaten antara Timpah-Pujon sempat dikeluhkan masyarakat, terutama para pengendara. Pasalnya pengelola jasa feri penyeberangan memungut biaya terlalu tinggi. Untuk mobil dipungut Rp 200 ribu dan sepeda motor Rp 100 ribu.

Terkait hal ini, Camat Timpah Batu Panahan mengingatkan pengelola feri penyeberangan tidak mengambil kesempatan dengan mencari keuntungan saat musibah. Pungutan dapat disesuaikan kemampuan warga yang memakai jasa feri dengan tetap mengutamakan keselamatan para penumpangnya.

Hal ini dikatakan Camat Timpah kepada Tabengan, Senin (12/11) pagi, usai melakukan koordinasi dengan jajaran aparat kepolisian dan pengelola feri penyebrangan dadakan.

Dengan adanya keluhan para pengguna jasa feri dadakan ini, maka Camat Timpah, aparatur Desa Danau Pantau, BPD dan pengelola feri dengan didampingi aparat kepolisian dan Koramil Timpah mengadakan rapat untuk memutuskan dasar tarif feri tersebut.

“Dari hasil pertemuan atau koordinasi dengan para pengelola jasa feri yang sehari sebelumnya pasca ambruknya ruas jalan di Sei Pantau memungut bayaran Rp 200 ribu untuk kendaraan roda 4 dan Rp 100 ribu untuk kendaraan roda 2. Hasil pertemuan disepakati untuk roda 4 sebesar Rp 100 ribu dan roda 2 hanya Rp 30 ribua,” ujar Camat.

Diterangkan Camat, pada pertemuan tersebut alasan pengelola jasa feri memungut Rp 200 ribu dikarenakan untuk mengganti pembuatan landasan turun kendaraan yang dibuat pada tiap ujung kiri dan kanan jalan. Tetapi di hari kedua sudah diturunkan menjadi Rp 100 ribu untuk roda 4 dan Rp 30 ribu untuk kendaraan roda 2.

Sementara itu, Polsek Timpah mengimbau kepada masyarakat agar selalu berhati-hati dan menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan selama kondisi jalan masih terputus.

Kapolres Kapuas AKBP Tejo Yuantoro SIK, MSi, Minggu (11/11) malam, sekitar pukul 21.30 WIB ikut memantau langsung kondisi jembatan yang rusak. Kapolres didampingi Kapolsek Timpah. Sementara anggota Polsek standby di lapangan melaksanakan giat pengamanan.

“Memang akibat adanya antrean panjang para pengguna kendaraan sepeda motor dan mobil yang menunggu antrean sempat ribut akibat kepanasan. Terutama ibu-ibu dan anak-anak. Namun personel PAM dapat mengantisipasi dengan memberikan penjelasan sehingga suasana terkendali,” kata Kapolsek Timpah Iptu M Juhri dalam rilisnya.

Informasi yang dihimpun Tabengan, kondisi air Sungai Pantau debitnya memang tidak lagi setinggi sehari sebelum meruntuhkan jembatan. Namun karena tak bisa dilalui maka aparat Polsek Timpah dibantu TNI dan aparat kecamatan terus memantau dan membuat posko di lokasi tersebut.

Sampit Terendam
Sementara di Sampit, hujan lebat yang mengguyur sejak Minggu (11/11) malam hingga Senin (12/11) pagi, membuat sejumlah kawasan tergenang air. Beberapa ruas jalan protokol, perumahan penduduk hingga sejumlah ruangan di RSUD dr Murjani Sampit tergenang. Akibatnya, sempat terjadi antrean panjang di Jalan Sudirman karena genangan air cukup dalam.

“Saya bersama anggota terjun langsung untuk mengatur lalu lintas di Jalan Sudirman. Hingga Senin (12/11) siang, masih ada genangan, tetapi arus lalu lintas mulai berangsur normal,” terang Kepala Dinas Perhubungan Kotim, H Fadlian Noor.

Beberapa ruas jalan di Kota Sampit yang tergenang air antara lain Jalan Ahmad Yani. MT Haryono, DI Panjaitan, HM Arsyad, Sudirman dan beberapa ruas jalan di kawasan pemukiman penduduk. Banjir juga sempat merendam rumah penduduk, sehingga sejumlah warga sempat mengevakuasi barang-barang mereka agar tidak terendam air.

Sedangkan di RSUD dr Murjani, setidaknya ada 4 ruangan yang terendam banjir, yakni poli bedah, rehabilitasi medik, laboratorium, dan juga kamar operasi.

Walaupun kebanjiran, namun tidak terlalu mengganggu aktivitas pelayanan terhadap masyarakat yang sakit. Karena Senin (12/11) siang, banjir sudah mulai surut, dan para petugas kebersihan maupun pegawai rumah sakit yang ruangannya mengalami kebanjiran melakukan pembersihan.

“Tidak terlalu mengganggu pelayanan, dan saat ini sudah mulai melakukan pembersihan. Ruang rawat inap tidak ada yang kebanjiran. Karena merupakan ruangan baru yang cukup tinggi,” ujar Wakil Direktur Bidang Pelayanan RSUD Dr Murjani Sampit, dr Yudha Herlambang.

Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Bandara Haji Asan Sampit, Nur Setiawan mengungkapkan, potensi hujan lebat terjadi sejak 9 November hingga 14 November 2018.

“Jadi perlu diwaspadai hidrometeorologi, antara lain genangan, banjir, longsor, banjir bandang dan puting beliung,” terangnya saat dikonfirmasi, Senin. c-yul/and/c-arb/c-may

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *