Mengenang 10 November, Pahlawan Tjilik Riwut Cinta Budaya Leluhur

  • Bagikan

Tabengan.com – Almarhum Tjilik Riwut tidak hanya dikenal sebagai pahlawan nasional. Sebagai pencetus dan pendiri Provinsi Kalimantan Tengah, sosok pria pejuang tersebut juga sangat kuat mencintai dan mempertahankan budaya leluhur. Hal itu tampaknya juga menurun ke seluruh anak hingga cucunya yang kini aktif dalam mempromosikan dan gencar menyuarakan kebudayaan asli daerah.

Di Hari Pahlawan yang jatuh tepat 10 November (hari ini), ada pesan bagi kaum muda di Kalteng yang berkaitan erat dengan kepahlawanan Tjilik Riwut.

Ditemui di sebuah resto dan cafe yang mengangkat tema sang pahlawan nasional Tjilik Riwut, sosok wanita sederhana yang dikenal dengan panggilan Mina Ida itu tampak santai di sudut meja. Sembari menikmati kopinya, Kameloh Ida Riwut, anak keempat dari Tjilik Riwut tersebut, mempersilakan tamunya duduk bersama.

Ramah dan baik. Kesan itu cukup lekat dari wanita yang kini sibuk mengelola galeri mini yang sudah sangat dikenal masyarakat di wilayah ini. Tidak berbasa basi dirinya langsung bercerita sosok sang ayah, yang bisa dikatakan merupakan panutan dan teladan masyarakat Kalteng.

“Dalam semangat bapak Tjilik Riwut yang bisa kita ambil adalah semangat juangnya. Dalam kehidupan itu keluarga memang yang utama. Namun di atas itu bapak mengutamakan, kesatuan bangsa dan kepentingan negara,” ujarnya didampingi sang cucu Tjilik Riwut Chicco Sulang, ketika dibincangi Tabengan, Jumat (9/11).

Salah satu yang lekat di ingatan, ucapnya, dimana Tjilik Riwut selalu berpesan untuk tidak membeda-bedakan antara satu suku dan lainnya. Tidak terpecah belah dalam persatuan Bhineka Tunggal Ika, dimana ada semboyan Isen Mulang yang menggambarkan diri Tjilik Riwut untuk pantang menyerah menghadapi persoalan, baik perbedaan ataupun problema lain di Kalteng.

Namun yang terpenting, ucapnya, adalah pendidikan. Sektor inilah yang meningkatkan derajat bagi masyarakat Kalteng khususnya dan juga sebagai penunjang pembangunan di wilayah tersebut.

Terhadap kaum muda saat ini, dirinya berpesan agar tidak lupa dengan jati diri sebenarnya. ”Modernisasi dan millenial boleh saja, asal jangan lupa dengan jati diri kita, dari mana asal kita. Kita orang Indonesia dan kita Suku Dayak, dimana dua hal ini jangan pernah dilepaskan,” ujar wanita murah senyum tersebut.

Menyangkut eksistensi para kaum muda terhadap kebudayaan daerah sendiri, dirinya menilai sudah cukup baik. Masih banyak para generasi muda yang melanjutkan pelestarian budaya leluhur. Yang mesti diingatkan, ucap dia, jangan sampai melenceng. Artinya, boleh saja semakin maju dan modern, tapi jangan merusak apa yang berkaitan dengan leluhur.

Dirinya mengaku bangga dengan eksistensi para remaja saat ini. Banyak yang melestarikan budayanya, melalui kegiatan sanggar-sanggar kesenian budaya. Kondisi itu bisa dikatakan anak-anak muda di wilayah ini memiliki sifat yang kuat dalam mempertahankan keaslian budaya daerah.

“Saya melihat mereka sudah banyak condong bangga dengan budaya asli. Ini yang mesti kita pertahankan, agar kearifan lokal yang selama ini sudah dipertahankan dengan baik, tidak hilang akibat tergerus zaman,” ujarnya mengakhiri. didin rakhmadin

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *