Perda Larangan Cegah Perkembangan LGBT

  • Bagikan

SAMPIT/tabengan.com – Wacana DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) membuat Peraturan Daerah tentang Larangan Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT), didukung penuh Bupati Kotim H Supian Hadi.

Bahkan, Supian Hadi mendorong perda tersebut dapat diprioritaskan supaya dapat segera diterapkan. Sebab, ia menilai keberadaan perda yang mengatur LGBT merupakan upaya pencegahan terhadap berkembangnya LGBT di Kotim.

“Saya sangat mendukung Perda tersebut. Saya juga berterima kasih dengan kawan-kawan di DPRD, karena sudah menyambut keresahan di kalangan masyarakat dengan merumuskan regulasinya,” ujarnya, Kamis (8/11).

Bupati mengaku, selama ini kerap kali mendapatkan pengaduan dari masyarakat yang masuk ke akun media sosial pribadinya, terkait maraknya perilaku LGBT di wilayah Kotim.

Ia menilai perilaku menyimpang yang mulai meruak di Kotim ini sangat berbahaya dan mengkhawatirkan, untuk itu ia sangat berharap Perda larangan LGBT tersebut bisa segera disahkan.

“Karena banyak efek negatif dengan berkembangnya komunitas LGBT, seperti berkembangnya penyakit HIV/AIDS, juga sudah tentu perilaku itu melanggar norma agama kita,” tegasnya.

KPA Respon Positif
Sementara itu, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kotim, Drs H Asyikin Arpan juga sangat mendukung dan merespon positif, terkait dengan rencana pembuatan Raperda LGBT tersebut.

“Rencana pembuatan raperda ini sangat baik. Selain itu, kaitannya dengan kehidupan sosial dan berbangsa bernegara jika kita kembali ke Pancasila yaitu sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, di negara kita ini tidak ada agama yang melegalkan LGBT,” tandasnya, saat dikonfirmasi, Kamis.

Diungkapkan Asyikin, selama ini komunitas LGBT ini sangat tertutup. Bahkan, pihaknya juga sempat ingin melakukan sosialisasi terkait HIV/AIDS kepada komunitas LGBT ini di Kotim, namun tidak pernah bertemu atau menemukan komunitas ini lagi.

“Dulu pernah ada dan saya punya kontaknya, namun sekarang orang-orangnya itu sudah di luar kota semua. Sepertinya, komunitas LGBT saat ini lebih tertutup. Mungkin di dunia maya terlihat aktif atau ada kelompok-kelompoknya, namun di dunia nyata ini kami belum menemukannya. Mungkin saja ada, namun lebih tertutup,” ungkap Asyikin.

Disampaikannya, keberadaan komunitas LGBT ini memang perlu diwaspadai dan diantisipasi, salah satunya dengan adanya regulasi seperti rencananya dibuatnya Raperda LGBT. Dengan adanya regulasi tersebut juga diharapkan dapat melindungi generasi muda yang bisa terjerumus ke dalam kelompok LGBT ini.

Dirinya pernah membaca artikel tentang banyaknya grup LGBT di sosial media yang sebagian besar anggotanya adalah remaja di Kotim. Jika ini benar tentu sangat memprihatinkan dan harus ada upaya untuk mencegah LGBT tidak semakin berkembang.

Sedangkan Ketua LSM Lentera Kartini Forisni Aprilista mengapresiasi langkah DPRD kotim yang akan menerbitkan Perda larangan LGBT. Ia menyarankan jika ingin membuat perda harus benar-benar dipelajari dulu apa itu definisi LGBT, termasuk kehidupan mereka dan dampak dari keberadaan mereka. Juga sisi negatif apa yang timbul dengan keberadaan mereka.

“Kalau saya setuju saja sejauh isinya jelas, biasanya kaum LGBT ini kan sangat tertutup dan ekskusif dalam kelompok yang tidak sembarang orang bisa masuk, jadi sulit untuk ditindak. Termasuk juga dimuat tentang sanksi apa yang bisa diterapkan jika terjadi kasus, semua harus jelas,” tuturnya. c-may/c-arb

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *