Kisah dr Meinardi Relawan Medis ke Sulteng

  • Whatsapp
iklan atas

Tabengan.com – “Rasa lelah dan letih kami terbayar begitu melihat para korban di Kecamatan Dolo bisa tersenyum. Meski dalam kesulitan, semangat mereka begitu besar untuk melanjutkan dan menata kehidupan ke depannya”.

Kalimat itu terlontar dari dr H Meinardi Mastur, dokter asal Kotawaringin Barat, ketika ditanya Tabengan terkait hal yang paling membahagiakan baginya selama berada di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Bacaan Lainnya

iklan atas

Meinardi, salah satu tim assessment yang tergabung dalam tim Medical Emergency Dissaster (MED-A). Begitu gempa dan tsunami menerjang Palu, Jumat (28/9), Tim MED-A pun langsung terjun ke sana. Tim MED-A merupakan organisasi relawan yang anggotanya dokter semua.

“Begitu kejadian hari Jumat, saya bersama teman saya dari Semarang langsung berangkat pada Sabtunya (29/9). Kami bertemu di Surabaya dan langsung ke Makassar. Kami sempat menunggu 10 jam dengan harapan bisa ikut Hercules ternyata tidak bisa, akhirnya kami pun menggunakan KRI Makassar,” kata Meinardi mengawali kisahnya saat menjadi tim relawan ke Sulteng.

Lantaran muatan KRI Makassar overcapacity karena membawa logistik, perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh 10 jam, baru 30 jam bisa sampai tujuan.

“Begitu sampai semuanya dalam keadaan hancur tanpa penerangan apalagi komunikasi, kami tetap lakukan tugas kami. Saat itu tugas kami membuat pemetaan dan mencatat apa yang dibutuhkan. Dengan kondisi porak poranda, kami langsung mendirikan tenda dan melakukan pertolongan kepada korban yang kebanyakan mengalami patah tulang akibat terkena runtuhan bangunan,” ujarnya dia.

“Dengan keterbatasan peralatan dan kondisi yang sangat kacau, kami tetap harus melakukan sesuatu bagi korban, agar tidak lebih parah kondisinya. Saat itu para korban menahan sakit tanpa pertolongan, bukan saja patah tulang, kami pun harus membantu persalinan di tenda darurat. Saat itu ada 5 orang ibu yang melahirkan,” tutur Meinardi.

Pada hari berikutnya, datang Tim II yang membawa obat-obatan dan keperluan lainnya, termasuk dokter spesialis ortopedi, kandungan dan dokter spesialis anak. Tim langsung mendirikan Puskesmas darurat.

“Selain mendirikan puskesmas darurat di Biromaru karena puskesmas di sana hancur, kami mendirikan pos induk dan pos mobile. Hanya kesulitan bagi kami saat melakukan mobile terkendala bahan bakar yang saat itu memang tidak ada. Hari kelima setelah kejadian, alhamdulillah penerangan dan komunikasi sudah bisa digunakan, hanya kendala bahan bakar saja. Tim kami bergabung dengan relawan non medis,” ujar Meinardi.

Keberadaan relawan non medis diakuinya sangat membantu tim dokter, karena mereka langsung mendirikan tenda darurat, puskesmas darurat. Termasuk saat mobile pun tim dokter bergabung dengan relawan non medis.

“Pada saat kelangkaan bahan bakar, sehari kami hanya merujuk tiga orang ke rumah sakit untuk segera dioperasi. Keadaan rumah sakit pun sangat memprihatinkan, sehingga begitu selesai dioperasi langsung dibawa keluar tenda, dan sebagian besar korban dirujuk ke Balikpapan,” terangnya.

Meinardi menceritakan, pada saat semuanya masih kacau akses belum terbuka, uang di sana tidak berarti. Meski bawa bekal uang, tapi tidak bisa dibelanjakan, karena semua warung tutup, bahkan hancur. Untuk mencari makanan pun sulit, sedangkan perbekalan yang dibawa hanya secukupnya.

“Kami sangat bersyukur, semua keadaan membaik begitu bantuan datang. Memang saat itu kesulitan bantuan karena banyak akses jalan yang porak poranda. Meski di tengah serba tidak ada, kami tim relawan tetap menjalankan misi kemanusiaan, kami bekerja tanpa batas waktu, yang terpikir hanya harus banyak yang tertolong dan ditindaki agar selamat,” imbuh Meinardi.

Dirinya bergerak bergabung menjadi tim relawan karena panggilan naluri, karena panggilan itulah dirinya pun harus merelakan, baik materi dan tenaga.

“Setelah kita semua bekerja tanpa batas waktu, ada kepuasan batin bagi tim relawan ketika melihat para korban bisa tersenyum, meski di tengah kesusahan. Mereka semua mau bangkit dan bersemangat, hal itu membuat kami para relawan pun rasanya terbayar segala lelah dan letih,” ujarnya.

Meinardi yang tinggal di Jalan Macan No 18 Pangkalan Bun ini bersama 15 orang dokter yang tergabung dalam MED-A berada di lokasi bencana Sulteng selama 10 hari. Setelah sudah banyak tim relawan lainnya, tim MED-A kemudian kembali ke tempat asal masing-masing, sebelumnya tim MED-A menyerahkan puskesmas darurat untuk tim relawan lainnya. yulia

iklan atas

Pos terkait

iklan atas