Ayam Potong Mendadak Hilang

  • Whatsapp
iklan atas

PALANGKA RAYA/tabengan.com – Daging ayam potong ras di wilayah Kalimantan Tengah, mendadak menghilang dari pasaran. Akibatnya harga tiba-tiba melambung tinggi. Di Palangka Raya, harga daging ayam potong yang biasanya Rp 32 ribu/kg, kini naik hingga Rp 45 ribu/kg. Sementara di Sampit, Kotawaringin Timur, harga ayam potong sudah tembus Rp 50 ribu/kg.

H Pusiman, seorang penjual daging ayam ras di Pasar Besar Palangka Raya, menyayangkan kenaikan harga daging ayam diikuti dengan tidak adanya stok tersebut.

“Kalau harganya naik, silahkan saja. Namun kalau sekarang naik, namun barangnya tidak ada, tidak ada yang bisa kami jual,” katanya, kepada Tabengan, Selasa (9/10).

Menurut dia, hilangnya ayam ras disebabkan adanya monopoli perusahaan ayam dari luar daerah, dengan cara mengurangi bibit ayam bagi peternak lokal. Ketika ayam milik peternak lokal telah habis, mereka akan menunggu bibit dari perusahaan, sehingga perusahaan memiliki kuasa untuk mengatur keluar masuk ayam ke Palangka Raya. “Akhirnya kita selalu ketergantungan dengan mereka,” bebernya.

Ketua Persatuan Pedagang Pasar Besar Palangka Raya Hamidan berharap Pemerintah Kota maupun Provinsi mencarikan solusi karena masyarakat merasa tertekan dengan kenaikan harga semacam ini.

Pemerintah, kata Hamidan, seharusnya bekerja dengan sungguh-sungguh agar bisa segera menstabilkan harga daging ayam. “Kejadian ini selalu berulang terus, pemerintah harus segera turun tangan untuk mengatasi hal tersebut agar persoalan ini tidak berlarut- larut dan membuat masyarakat yang terkena imbasnya,” ujarnya.

Kenaikan harga ayam seperti ini seharunys tidak terjadi terus menerus, jika instansi terkait bisa bekerja dengan baik. “Saya sebagai Ketua Pasar siap jika diminta untuk duduk bersama dan saling bertukar pikiran dengan pemerintah, untuk mengambil langkah yang tepat guna mengatasi permasalahan ini,” imbuhnya.

Sayangnya, kata Hamidan, hingga saat ini pihaknya belum pernah dilibatkan pemerintah untuk duduk bersama membicarakan persoalan kenaikan harga seperti ini.

Hamidan juga berpesan kepada Pemko Palangka Raya agar menertibkan para pedagang yang berjualan di pinggir Jalan Ahmad Yani maupun Jalan Seram untuk diatur waktunya. Selama ini para pedagang pasar yang berada di dalam mengeluhkan sepi pembeli karena banyaknya pedagang yang berjualan di pinggir jalan.

“Hal- hal semacam ini sangat rentan sekali untuk dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu guna memperoleh keuntungan,” ujarnya.

Sementara di kota Sampit, Kotim, dari pantauan Tabengan di Pasar Keramat, harga daging ayam potong juga terus mengalami kenaikan. Apabila sehari sebelumnya terpantau harga berkisar Rp 42-43 ribu/kg, pada Selasa kemarin naik lagi menjadi Rp 48-50 ribu/kg.

Kenaikan harga ayam yang cukup signifikan tersebut sangat dikeluhkan oleh sejumlah warga. Laila (34), pedagang makanan di Kecamatan MB Ketapang, mengaku sangat dibebani dengan kenaikan harga ayam ras.

Usaha warung makannya mengalami kerugian karena harga ayam yang sangat tinggi. “Mahal sekali, mau tidak mau saya naikkan harga per porsi. Itu pun dengan ukuran yang juga dikurangi. Pembeli saya banyak berkurang,” keluhnya.

Ida, seorang pedagang ayam di pasar Sampit, mengaku belum mengetahui kapan harga ayam akan normal kembali. Ia malah memprediksi harga ayam akan kembali naik dalam beberapa hari ke depan dikarenakan jumlah pasokan yang masih kurang.

“Pasokan kita dari Banjarmasin sedikit sekali, mau tidak mau kita naikkan harga. Ya, risikonya di kita pembeli jadi sepi. Karena harganya yang mahal, mereka (pembeli) banyak beralih beli ikan laut dan sungai,” tuturnya. c-may

iklan atas

Pos terkait

iklan atas