Pencucian Pusaka Dayak Tomun Peninggalan Leluhur

  • Whatsapp

Suasana sejuk namun magis mulai terasa ketika memasuki Desa Kubung Kecamatan Delang Kabupaten Lamandau. Hutan yang masih lebat dengan pohon-pohon yang besar dan berlumut tebal menambah suasana kian terasa mistis yang kuat di desa ini.

Di tengah desa terdapat sebuah rumah betang atau masyarakat Kubung biasa menyebutnya dengan Titik Poluh. Rumah yang semua bagiannya terbuat dari kayu tersebut biasa digunakan untuk rapat atau acara-acara adat masyarakat setempat.

Bacaan Lainnya

Pagi itu cuaca sangat cerah, kabut yang masih menyelimuti puncak-puncak bukit Batu Betongkat. Suara nyanyian burung yang mungkin sudah jarang bisa didengar di kota dapat kita dengar di desa ini. Pada hari kedua rangkaian Upacara Babantan Laman yang akan dilakukan oleh Mantir Adat adalah mencuci pusaka peninggalan Leluhur warga Kubung.

“Dari tahun 1962 sampai sekarang 2018, kami selalu melakukan Upacara Bebantan setiap tahunnya dan belum pernah absen sekali pun. Dalam upacara ini juga ada posesi pencucian Pusaka Leluhur yang masih kami jaga,” kata Sesepuh Desa Kubung, Anias Mante.

Pria 67 tahun yang merangkap Sekretaris Desa 2 itu juga menjelaskan, pada proses pencucian pusaka tersebut nantinya dipilih satu orang laki-laki yang belum menikah atau satu perempuan yang juga belum menikah untuk mengetes pusaka. Hal ini karena masyarakat setempat orang yang belum menikah masih dianggap suci dan layak untuk mengetes pusaka tersebut masih memiliki khodam atau tidak.

Proses pun dimulai, beberapa pusaka dikeluarkan dan ditaruh di sebuah piring besar yang berbahan keramik. Piring itu berdiameter kurang lebih 30 cm, berwarna putih bersih dan ada motif berwarna biru. sembari menata pusaka di dalam piring, dibacakan juga mantra-matra yang terdengar sakral dan magis.

Suasana di dalam Titik Poluh menjadi hening dan yang terdengar hanya suara lafalan mantra yang terucap. Pusaka yang berjumlah 22 buah itu berupa beberapa batu dan tulang serta taring hewan yang terlihat sudah sangat tua.

Usai semua pusaka tertata rapi, Mante mengambil seekor anak ayam untuk diambil darahnya dari bagian paruh. Darah ayam tersebut lalu dioleskan ke pusaka satu-persatu, dituangkan tuak hingga semua pusaka terendam.

Pada akhirnya Mante memilih salah seorang perempuan yang akan mengetes pusaka tersebut. Perempuan itu lalu ditutup dengan sebuah kain batik sambil memegang salah satu pusaka. Rambut diambil beberapa helai dan dipotong dengan sebuah pisau silet yang masih baru.

Pada prosesi tersebut, jika rambut perempuan itu putus berarti kodam atau kekuatan pada pusaka sudah hilang. Sebaliknya, jika rambut tidak putus sehelai pun, maka kodam atau kekuatan pusaka tersebut masih ada. Setelah dites, rambut tidak putus sama sekali dan semua orang yang menyaksikan bertepuk tangan meriah.

Setelah itu, Edy Zacheus sebagai Kepala Desa, meminum tuak dari piring yang berisi pusaka tadi sampai habis. Selain Edy, perempuan yang dipilih untuk mengetes pusaka pun harus ikut minum dengan cara yang sama.

“Kalau saya minum karena saya yang memegang salah satu pusaka leluhur itu. Biasanya tiap tahun saya yang ngetes, tapi kali ini kita beri kesempatan kepada teman-teman yang hadir,” kata Kades Desa Kubung.

Edy menambahkan, tahun lalu untuk mengetes pusakanya tidak dengan rambut, tapi menggunakan parang yang disayatkan ke tubuhnya. Tetapi karena kali ini perempuan yang mengetes, maka pusaka di tes hanya dengan rambutnya saja.

Mante mengatakan, praktik pencucian pusaka ini sebagai bentuk pelestarian kearifan lokal atau melestarikan warisan leluhur Dayak Tomun, khususnya masyarakat Desa Kubung. Semua warga, baik anak-anak maupun orang dewasa menyaksikan dan dimaksudkan agar mereka semua tetap mengingat serta menjaga warisan leluhur mereka.

Jika warisan leluhur sudah tidak ada lagi, maka kita akan kehilangan identitas diri kita sebagai Suku Dayak Tomun. Pusaka dan hutan harus selalu dijaga turun temurun oleh generasi selanjutnya, sebagai penerus Dayak Tomun.

“Kami harap hutan kita jangan diganggu gugat, jangan dihancurkan oleh perusahaan, karena kami merasa hutan adalah Ibu Kandung kami,” kata Anias Mante yang mengenakan ikat kepala dari Kapuak saat menutup acara. yohanes

Pos terkait