Dewan Prihatin Banjir Bukit Rawi

84
H.M.ASERA, SE
H.M.ASERA, SE

PALANGKA RAYA/tabengan.com – Belum tuntasnya persoalan banjir yang memutuskan jalur transportasi di Bukit Rawi, Kabupaten Pulang Pisau mendapat sorotan dari jajaran DPRD Provinsi Kalteng. Pihaknya mendesak agar pemerintah pusat segera menindaklanjuti persoalan itu hingga tuntas. “Permasalahan ini tidak kunjung berhenti. Solusinya hanyalah pembangunan jembatan layang,” tegas wakil rakyat dari Dapil V yang meliputi Pulang Pisau dan Kapuas, HM Asera kepada Tabengan, belum lama ini.

Pihaknya berharap agar problema ini benar-benar diperhatikan, pasalnya proyek peninggian badan jalan, di area banjir itu juga tidak berhasil.

Selama bertahun-tahun, luapan air Sungai Kahayan, selalu saja merendam jalur itu.

Politisi PKB itu berharap agar pemerintah pusat turun ke lapangan untuk melihat kondisi yang ada.

Ditegaskannya, kalau memang hingga saat ini tidak ada perhatian, lebih baik serahkan saja kepada investor untuk mengerjakannya. Tujuannya agar segera ditangani dan ditindaklanjuti.

“Kalau tetap tidak ada perhatian juga, maka lebih baik dibangun sendiri, karena sudah ada investor yang siap membangun sarana jembatan atau fileslab untuk akses yang lancar serta tidak terkena banjir lagi,” ujarnya.

Melalui konsorsium tiga negara yaitu Belarusia, Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, dan China, serta India, pihaknya bisa saja membangun jalan tol secara swasta. Dirinya menyatakan para investor siap apabila diperlukan untuk merealisasikan kegiatan itu.

Asera juga menginginkan pemerintah, jangan tutup mata terkait masalah ini tentunya tidak pilih kasih dalam berbagai kegiatan pembangunan.

Apalagi selama ini Kalteng merupakan daerah penyumbang terbesar pemasukan keuangan negara. Bahkan Sumber Daya Alam (SDA) seperti sektor pertambangan, batu bara, emas, dan lainnya.

“Kita tidak ingin SDA di daerah ini terus dikeruk, tanpa adanya perhatian dari segi pemerataan pembangunan di Kalteng,” tegasnya serius.

Mantan penegak hukum itu juga mengatakan, terlepas dari itu jalur Bukit Rawi merupakan akses utama menuju wilayah lain. Banjir yang terjadi disetiap tahunnya, menghambat aktivitas masyarakat.

Otomatis sektor lain, ikut berimbas negatif. Selanjutnya roda perekonomian masyarakat juga ikut terkendala. Apalagi jalan itu merupakan, penghubung Palangka Raya untuk sejumlah kabupaten sebut saja Gumas, Barsel, Bartim, Pulang Pisau, Mura, dan Kapuas. Dikhawatirkan apabila total tidak bisa dilewati, pengendara akan memutar melalui Banjarmasin, dan hal itu akan sangat memprihatinkan, sebab jarak tempuh yang jauh serta biaya besar membuat kerugian bagi masyarakat pengguna jalan.

Selain itu, pria murah senyum itu juga menanggapi adanya, dampak dari pembangunan jembatan layang itu. Artinya jangan sampai berefek negatif bagi masyarakat sekitar.

Keberadaan lahan/tanah warga harus benar-benar dihargai. Tentunya diperlukan solusi, yang tidak membuat kerugian bagi publik setempat. Untuk itulah diperlukan tim yang melibatkan DPRD Provinsi, Pemprov/Dinas PU serta jajaran pusat, dalam menindaklanjuti persoalan itu bersama-sama.

“Sudah tiga tahun diusulkan, tapi belum ada kejelasan dari pusat, kalau masih tidak ada titik terang, ya di swastanisasikan saja melalui pembangunan jalan tol,” jelasnya.

Perlu diketahui kondisi banjir di kawasan Bukit Rawi, cukup parah. Ketinggian air yang merendam jalan utama, mencapai 50 cm lebih. Disetiap tahunnya, debit air selalu mengalami kenaikan.

Kondisi ini mengakibatkan antrean panjang, bagi kendaraan roda dua dan empat. Alternatif bagi sepeda motor adalah menggunakan feri/kelotok, yang terkadang dipungut biaya dengan jumlah cukup besar. drn

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here