Ratusan Mahasiswa UPR Tuntut Rektor Mundur

674
Demo mahasiswa Universitas Palangkaraya
Demo mahasiswa Universitas Palangkaraya

PALANGKA RAYA/tabengan.com – Ratusan mahasiswa Universitas Palangka Raya (UPR) menggelar unjuk rasa di depan Kantor Rektorat Universitas tersebut, Senin (10/4) pagi.

Dalam aksinya, mahasiswa menuntut agar Rektor UPR Prof Dr Ferdinand MS mundur dari kursi jabatannya. Mahasiswa yang demo mewakili dari semua fakultas.

Beberapa pemicu tuntutan mahasiswa di antaranya mengenai sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang dinilai sarat korupsi dan tidak transparan. Kemudian munculnya tata tertib mahasiswa yang baru-baru ini dikeluarkan.

Dimulai sejak 09.30 WIB, ratusan mahasiswa menggelar orasi di depan Kantor Rektorat lengkap dengan spanduk bertuliskan ketidakadilan yang dilakukan oleh Rektor setempat.

Aksi pembakaran keranda dan ban bekas serta pelemparan koin pun mewarnai jalannya unjuk rasa. Aksi saling dorong mahasiswa dengan kepolisian yang berjaga tidak terhindarkan, ketika mahasiswa mencoba masuk ke dalam Kantor Rektorat.

Presiden Mahasiswa UPR Ali Assegaf menegaskan tuntutan agar Rektor mundur sebagai harga mati. Karena terlalu banyak penyimpangan kebijakan yang dikeluarkan oleh Rektor dan tidak berkeadilan.

“Apabila Rektor tidak mundur, ini bisa sangat berbahaya karena aksi ini bersifat dinamis. Kemudian yang paling memalukan, dikeluarkannya tata tertib tahun 2017 yang sama persis menyontek Universitas Andalas,” katanya di sela-sela aksi.

Yupan, selaku negosiator dari perwakilan mahasiswa, mengatakan, para mahasiswa merasa kecewa dengan kepemimpinan Rektor sekarang karena tidak memajukan mahasiswa dan UPR, namun justru sebaliknya menyulitkan mahasiswa.

“Salah satu hal yang sangat mengecewakan bagi kami, fasilitas untuk UPR yang sangat memprihatinkan, termasuk jumlah mahasiswa yang bertumpuk dalam satu ruangan,” ujar Yupan.

Aksi mahasiswa kemudian mereda setelah Pjs Sekda Kalteng Syahrin Daulay datang memberikan sambutan. Syahrin mengatakan Gubernur Kalteng Sugianto Sabran masih berada di Jakarta dan tidak bisa menemui mahasiswa.

“Pemerintah Provinsi yakni Gubernur Kalteng siap bertemu dengan mahasiswa sekalian. Kita tentukan waktunya, kami siap,” ucap Syahrin.

Demonstrasi ini mendapat pengawalan ketat ratusan personel kepolisian dari Polres Palangka Raya dan Polda Kalteng. Bahkan polisi menurunkan 3 buah mobil water canon dan K9 untuk mengantisipasi terjadi hal tak diinginkan. fwa/udi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here