Buaya Pemangsa Warga Ditemukan Mati

284
buaya pemangsa manusia
Buaya yang diduga memangsa warga bernama Aman ditemukan mati terjerat pancing petugas BKSDA, Jumat (2/2).

PULANG PISAU/tabengan.com – Buaya muara yang sempat menerkam Aman (30), warga Kecamatan Katingan Kuala, Kabupaten Katingan hingga tewas, akhirnya ditemukan dalam keadaan mati setelah terjerat tali pancing milik petugas BKSDA Kalteng.

Kapolsek Sebangau Kuala, Kecamatan Sebangau, Iptu Memet SH, Minggu (4/2), membenarkan, buaya muara yang sempat menewaskan satu orang warga Katingan berhasil ditangkap, Jumat (2/2) sekitar pukul 06.00 WIB. Keberadaan buaya tersebut diketahui oleh seorang warga Dusun Lumpur, Desa Hambawang, Kecamatan Sebangau Kuala yang akan pergi berdagang dengan naik perahu kelotok dan melewati tempat kejadian perkara (TKP), di mana lokasi itu juga tempat penemuan jasad Aman beberapa waktu lalu.

“Warga tersebut melihat eceng gondok yang terkumpul tidak seperti biasanya. Saat didekati ternyata ada seekor buaya dalam keadaan tidak bergerak yang termakan pancing yang dipasang oleh tim BKSDA beberapa waktu lalu saat pencarian,” beber Memet.

Setelah mendapati bahwa itu betul buaya, lanjut Memet, kemudian warga tersebut langsung kembali memberitahukan warga lain untuk menarik ke tempat yang aman.

Setelah memastikan buaya itu sudah tidak bergerak, lalu predator ganas itu diukur dengan panjang 5.18 meter dan lebar 70 cm. Oleh warga, bangkai buaya itu lalu dikubur.

Habitat Buaya
Sementara itu, Camat Sebangau Kuala Herman Wibowo mengatakan, Sungai Sebangau merupakan habitat hidupnya buaya. Sungai Sebangau sejak dulu adalah tempat hidup, tumbuh dan berkembangnya buaya dan hewan-hewan lainnya (ikan dan lain sebagainya).

Tak dipungkiri juga, beber Herman, aktivitas kehidupan masyarakat Sebangau yang hidupnya tergantung pada Sungai Sebangau (para nelayan) maupun pencari galam. Sungai Sebangau juga sebagai sarana transportasi buat masyarakat, terutama di Desa Paduran Sebangau maupun Desa Sei Hambawang dan Bakau.

“Terkait dengan 2 poin yang saya sampaikan di atas, itu sangat mungkin pada satu titik akan terjadi persinggungan antara manusia dan buaya yang bisa berakibat seperti kejadian yang menimpa warga Desa Sebangau Jaya, Kecamatan Katingan Kuala,” kata Herman.

Untuk itu, kata Herman, diperlukan langkah-lagkah yang meminimalisir konflik antara manusia dan buaya, yakni menghmbau kepada masyarakat, terutama yang beraktivitas di sungai agar lebih berhati-hati dan mengutamakan keselamatan terhadap hal apapun yang ada di sungai, termasuk juga hewan buaya. Untuk aktivitas mandi dan mencuci di batang sungai agar bisa dibuat pagar dalam bentuk susunan kayu galam.

Ke depan sebagai langkah lanjutan, ujar Herman, untuk mengantisivasi hal-hal yang tidak diinginkan, pihaknya meminta untuk disosialisasikan MCK yang tempatnya di darat, tentunya ditambah sumur bor. Ini dilakukan agar masyarakat dapat mengurangi aktivitas di sungai yang artinya juga meminimalisir kejadian serangan hewan buaya.

“Hal-hal ini juga perlu kesadaran masyarakat, khususnya nelayan yang mencari ikan di Sungai Sebangau untuk beralih membudidayakan ikan di desa dengan sistem kolam atau apapun, sehingga ketersediaan ikan tetap terjaga dan ketergantungan pada Sungai Sebangau bisa dikurangi,” tegasnya.

Herman menambahkan, pembangunan infrastruktur jalan darat juga menjadi solusi dari risiko perjalanan di sungai. Ia juga menginformasikan kepada masyarakat bahwa Desa Sei Hambawang telah dapat dijangkau dengan melalui jalan darat melalui jalan perusahaan. c-mye

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here