Ke Pemukiman, Buaya Terbawa Banjir

39
BUAYA BKSDA
Seorang petugas BKSDA menunjukkan buaya sapit raksasa yang ditemukan di Seruyan Tengah. Kini, buaya tersebut sudah dilepaskan di wilayah Kobar.

PALANGKA RAYA/tabengan.com – Buaya yang menghebohkan warga Desa Batu Agung, Kecamatan Seruyan Tengah kini telah dilepasliarkan di Taman Nasional Tanjung Puting (TNPT). Menurut Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng banjir yang menyebabkan buaya muncul ke pemukiman.

“Alasan kenapa sampai di Desa Daya Alam, bisa sampai ada buaya mengejar warga, itu karena di daerah Seruyan Tengah memang ada habitat buaya sapit atau senyulong,” kata Handi Nasoka dari BKSDA Kalteng, Jumat (12/1).

“Kan akhir-akhir ini curah hujan cukup tinggi, jadi buaya itu bisa naik karena antara air dan daratan sudah rata,” imbuh dia.

Handi mengungkapkan, kini buaya yang memiliki berat dan panjang tak seperti pada umumnya buaya sapit itu telah dilepasliarkan di Pangkalan Bun, tepatnya Sungai Buluh Kecil di Taman Nasional Tanjung Putting agar tak menyerang warga lagi.

“Buaya berjenis kelamin betina ini berwarna coklat keputihan, memiliki panjang tubuh 500 cm, panjang mocongnya 69 cm, panjang kepala 96 cm, dengan lebar badan 117 cm, dengan berat 1 ton. Ukuran Buaya yang di temukan ini termasuk jumbo jika dibandingkan dengan buaya sejenisnya” tambah Handi

Populasi buaya jenis senyulong ini cukup banyak di daerah Seruyan. Penemuan buaya jumbo ini bisa dianggap sebagai indikasi bahwa buaya di daerah ini sehat dan makanannya tercukupi.

Handi menjelaskan, penemuan buaya ini berawal dari laporan masyarakat bahwa hari Selasa (9/1) warga Desa Batu Agung, Kecamatan Seruyan Tengah, Kabupaten Seruyan heboh karena ada buaya mengejar seorang warga sekitar yang hendak memancing.

”Akhirnya bisa dijinakkan, karena di desa itu ada pawang buaya. Namanya Pak Jahari. Saat itu jam 9 pagi. sorenya kita langsung ke sana untuk melihat situasi, dan membawa buaya itu ke Pangkalan Bun,” tutur Handi.

Handi menambahkan, daerah yang sering terjadi serangan buaya adalah di daerah aliran Sungai Mentaya. Konflik ini terjadi karena habitat buaya mulai terganggu manusia.

Penanganan serangan buaya, menurut dia, tak mudah. Perlu latihan khusus, dan di Kalteng petugas terlatih itu belum banyak. BKSDA Kalteng telah belajar dari BKSDA Nusa Tenggara Timur tentang teknik-teknik menjebak buaya. m-sms

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here