Ratusan Sopir Truk Protes Harga Galian C

105
sopir truk mogok di sampit
MOGOK- Ratusan truk yang biasa mengangkut pasir uruk diparkir di sekitar Bundaran Belanga, sebagai bentuk protes naiknya harga pasir uruk di Kota Sampit, Senin (4/12). TABENGAN/ARBIT SAFARI

SAMPIT/tabengan.com – Harga galian C, baik itu pasir uruk maupun pasir cor yang terus melambung tidak hanya dikeluhkan oleh masyarakat, tetapi juga para sopir truk yang biasanya menjadi pemasok pasir bagi warga Kota Sampit dan sekitarnya.

Pasalnya, kenaikan harga galian C ini dinilai sudah tidak masuk akal dan membuat mereka semakin terjepit. Sebab itu, Senin (4/12), ratusan sopir menggelar aksi mogok dengan memarkir truk mereka di sekitar Bundaran Balanga, Jalan Sudirman Km 3 Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur.

Mereka memprotes naiknya harga pasir uruk dari Rp80 ribu untuk satu truk menjadi Rp100 ribu per satu truk. Kenaikan tersebut membuat harga pasir uruk ke tangan masyarakat semakin tinggi. Saat ini harga satu truk pasir uruk mencapai Rp250 ribu. Padahal sebelumnya harga pasir uruk ke tangan konsumen hanya sekitar Rp150 ribu hingga Rp175 ribu per truk.

“Kenaikan ini mulai terjadi saat masalah perizinan galian C dipersoalkan. Sebelumnya hanya Rp40 ribu saja, lalu setelah perizinan ini jadi persoalan harganya naik menjadi Rp80 ribu, sekarang dinaikkan lagi menjadi Rp100 ribu, sehingga sangat memberatkan kami,” terang Kaswandi, seorang sopir truk, ketika menggelar aksi mogok tersebut, Senin (4/12).

Mnurutnya, naiknya harga galian C ini sangat tidak beralasan. Karena saat ini tidak ada kenaikan harga BBM dan lainnya. “Kita ingin pemerintah turun tangan mengatasi persoalan ini. Kita minta ada ketetapan harga yang jelas, sehingga tidak seenaknya menaikkan harga galian C ini,” tandasnya.

Disampaikannya, sejak naiknya harga galian C ini membuat penghasilan mereka juga menurun drastis. “Dulu sehari kami bisa menjual hingga 7 sampai 8 truk sehari. Kalau sekarang, paling 3 truk saja. Sangat jauh menurunnya. Selain itu, warga juga mengeluhkan kenaikan harga pasir uruk ini. Padahal kami juga tidak banyak mengambil keuntungan,” tandasnya.

Disampaikannya, saat ini di Kota Sampit ada 500 lebih sopir truk yang sering memasok pasir kepada masyarakat maupun kontraktor. Jika persoalan ini tidak ada jalan keluar atau titik temu, kemungkinan akan digelar aksi yang lebih besar lagi. “Rencananya besok (hari ini) ada pertemuan di DPRD Kotim yang juga dihadiri oleh perwakilan Pemprov Kalteng,” jelasnya.

Dia menambahkan, selama ini pihaknya juga dalam bekerja selalu muncul rasa khawatir. Pasalnya, pihaknya tidak tahu apakah penjual pasir uruk atau galian C ini ini sudah mengantongi izin atau tidak. Sebab itu, pihaknya juga mengharapkan kepastian bahwa lahan yang digunakan untuk sumber galian C juga memiliki izin yang jelas.

Dalam aksi tersebut, para sopir memarkir truk mereka di sekeliling Bundaran Belanga. Aparat dari Satlantas Polres Kotim kemudian datang ke kawasan tersebut. c-arb

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here