“Enak Belajar di Tenda, Seperti Bermain”

    105
    kelas darurat sekolah terbakar di palangka raya
    Para murid SDN 5 Langkai tetap fokus belajar, Kamis (7/9), meski harus menggunakan kelas darurat berupa tenda bantuan Kemendikbud.

    Tabengan.com – Sekitar 20 anak terlihat tekun mengikuti pelajaran di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 5 Langkai, Jalan Wahidin Sudirohusodo, Palangka Raya, Kamis (7/9). Mereka hanya melirik sepintas ketika Tabengan melongok ke dalam tenda yang menjadi kelas tempat mereka belajar. Lalu, kembali perhatian tertuju kepada guru di depan yang tengah menjelaskan pelajaran.

    Meski sudah hampir dua bulan berlalu, dampak pembakaran tujuh SDN di Palangka Raya, Juli lalu masih dirasakan murid-murid yang sekolahnya dibakar. Termasuk murid SDN 5 Langkai yang sekolahnya dibakar habis, Sabtu 22 Juli 2017.
    “Untuk sementara siswa kelas 3 dan kelas 4 secara bergantian harus belajar di dalam tenda bantuan Kemendikbud,” kata Setiowati, Kepala SDN 5 Langkai di sela istirahatnya, Kamis (7/9).

    Menurut Setiowati, kondisi semula tenda dirasa kurang strategis dan menjadikan kendala untuk siswa belajar karena terlalu panas menjelang siang. Maka, sejak Rabu (30/8) siang tenda dipindahkan dari tempat semula ke tempat yang lebih teduh.
    Pemindahan tenda dilakukan dengan koordinasi Kemendikbud dan Komite Sekolah, secara suka rela para wali murid pun turut bergotong royong memindahkan tenda sementara tersebut. Setelah pemindahan tersebut siswa pun lebih nyaman dan fokus belajar.

    “Kemarin kami tidak membongkar tenda, kami mengangkatnya ramai-ramai sekitar 20 orang untuk menghemat waktu, waktunya kurang lebih hanya 15 menit. Kalau waktu memasangnya kami agak lama karena hanya berbekal buku manual,” katanya
    “Bagi kami yang penting semua siswa dapat belajar dengan baik, fokus dan senang, karena setiap ada yang terlihat murung pasti kami dekati dan tanyai,” imbuhnya.

    Menurut pengamatan Setiowati para siswa khususnya yang belajar di tenda malah merasa senang, karena bisa belajar dan bermain. Hawa di dalam “kelas” setelah dipindahkan juga lebih sejuk karena angin dapat masuk dengan leluasa.

    “Belajar di tenda enak dan lebih menyenang karena serasa seperti bermain. Kondisinya juga tidak mengganggu proses belajar, kami tetap bisa fokus dan mengerjakan tugas,” kata Ihsan, siswa kelas 4 di sela waktu mengerjakan tugasnya.

    Setiowati menjelaskan, untuk kelas 1, 2, 5, dan 6 para siswa belajar di dalam ruangan kelas dan perpustakaan. Hal ini dikarenakan ada beberapa murid yang berkebutuhan khusus, sehingga ia tidak menempatkan murid tersebut di dalam tenda.

    Bantuan
    Bantuan untuk sekolah juga datang dari berbagai kalangan mulai dari anggota DPR RI, Gubernur, Wali Kota, beberapa instansi dan pribadi. Bantuan berupa alat untuk membersihkan dan memperbaiki sekolah sementara, hingga alat-alat tulis untuk para siswa.

    Sebelum para siswa belajar kembali di sekolahnya, mereka sempat satu minggu menumpang di SDN 4 Langkai yang lokasinya berseberangan dengan SDN 5 Langkai. Selama proses belajar mengajar di sana, para siswa merasa kurang nyaman dan sulit untuk menyesuaikan tempat baru.

    Dengan keterbatasan fasilitas yang ada, para guru dan orang tua murid berinisiatif merenovasi sementara fasilitas yang ada. Beberapa ruangan sisa terbakar yang dirasa masih cukup kuat, dibersihkan dan disekat untuk menjadi ruang kelas. Toilet sementara hanya beratap terpal dan air bersih yang kurang.

    “Kendala kami hingga kini adalah listrik dan air bersih. Untuk listrik yang kami gunakan hingga saat ini berasal dari aliran listrik warga belakang. Sedangkan untuk air, kami diberi secara cuma-cuma oleh warga dan kantor UPT,” tutur dia.

    Dirinya sangat berterima kasih sekali karena warga sekitar banyak sekali membantu demi kelancaran anak-anak untuk bersekolah. Wali murid pun masih sering membantu secara materi dan tenaga untuk jaga malam secara suka rela. Bahkan, mereka sigap memberi bantuan untuk membersihkan sekolah hingga membuat toilet darurat.

    Selama ini pembiayaan untuk operasional merupakan bantuan sukarela dari beberapa rekan, simpatisan seperti PGRI, STIMIK, dan orang tua murid. Hal ini dikarenakan untuk biaya operasional hanya mengandalkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang sudah dianggarkan pemerintah.

    “Kemungkinan besar untuk proses belajar di dalam tenda seperti ini sampai ada pembangunan SD dari pihak pemerintah seperti, Pemko, Pemprov bersama Kemendikbud dan dinas-dinas terkait,” kata Setiowati sambil melihat anak-anak yang sedang belajar di dalam tenda.

    Menurut dia, kerusakan bangunan sekolah sudah terlalu parah. Sudah hancur. Maka, renovasi sudah tak memungkinkan lagi. Yang terbaik adalah pembangunan ulang gedung sekolah.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here