Menelisik Keberadaan Kerajaan Bataguh di Kapuas

    108
    kerajaan bataguh
    Seorang warga menunjuk benda-benda kuno yang diyakini sebagai peninggalan Kerajaan Bataguh.

    Tabengan.com – Sudah sejak lama cerita keberadaan kerajaan di wilayah Pulau Kupang, Kecamatan Selat, Kabupaten Kapuas, didengar. Demikian pula bukti-bukti keberadaan situs bersejarah itu, banyak ditemukan di kawasan tersebut. Memang pernah ada penelitian mengenai keberadaan kerajaan lama itu, namun prosesnya terhenti di tengah jalan.

    Akhir Agustus lalu, 28-29 Agustus 2017, dua petugas dari Provinsi Kalteng melakukan analisis di Pulau Kupang. Mereka adalah Gauri Vidya Dhaneswara, Analis Potensi Cagar Budaya dan Koleksi Museum, dan Markorius, Kepala Seksi Registrasi dan Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Kalteng.

    Dalam penelitian awal, kedua arkeolog memperkirakan di Kecamatan Bataguh terdapat situs-situs bersejarah. Di wilayah tersebut terdapat kuta atau benteng, tepatnya di Kelurahan Pulau Kupang.

    “Selama dua hari kami melakukan rekonstruksi area, terutama pada permukaan tanah. Dari rekonstruksi area itu, posisi situs yang ditemukan sangat luas, mencapai 5.000 meter persegi, dan di antaranya terdapat sungai-sungai kecil,” tutur Gauri, Sabtu (2/9).

    Ditambahkan pula, dalam rekonstruksi area ini ditemukan perhiasan dari batu, dayung, dan peralatan rumah tangga dari kayu. Ada pula kemudi kapal terbuat dari kayu dengan ukuran sekitar 5 meter. Benda-benda itu sudah hancur setelah ditemukan sekitar tahun 1987 lalu. Selain itu juga ditemukan emas yang sudah dalam bentuk perhiasan.

    “Saat ini kami belum melakukan penggalian. Namun rencana pengalian harus dilakukan dengan matang dengan melibatkan pihak-pihak seperti dari Balai Arkeologi Wilayah Kalimantan di Banjarbaru, Kalsel. Namun sebelumnya harus dilakukan pemetaan lebih dulu,” tuturnya.

    Dalam pemetaan itu, kata Gauri, mereka juga menemukan tempat orang beristirahat.
    Keterangan warga sekitar menyebutkan, posisi situs dengan luasan sekitar 5.000 meter persegi itu dibatasi dengan handil-handil. “Hari pertama yang kami lakukan adalah masuk ke bagian tengah, ditemukan dua buah bangunan kecil, dan dianggap sebagai tempat keramat atau tempat orang berhajat,” terang Gauri.

    Dari sisi-sisi sungai kecil ditemukan ratusan tiang ulin berbentuk log dengan ukuran 40 x 40 cm. Ulin-ulin tersebut tampak tersusun rapi dengan kedalaman sekitar 6 meter yang merupakan benteng. Diceritakan Gauri, Bataguh pada masanya merupakan pusat perdagangan cukup tersohor yang menjalin hubungan dagang dengan Tiongkok. Terbukti dengan ditemukannya manik dari Tiongkok. Namun fragmen keramik Tiongkok tak ditemukan masanya, diperkirakan antara tahun 1400-1600 zaman Dinasti Ming.

    Juga, disimpulkan ada indikasi Bataguh sudah menjalin hubungan dagang dengan pedagang dari Timur Tengah, dengan ditemukannya manik bintang dan bulan. Selain itu, juga ditemukan meriam. Meriam pertama kali diproduksi oleh Tiongkok, dan dibuat secara massal. Kemudian ditemukan tembikar dan diperkirakan tembikar dibakar dalam jumlah massal dengan suhu panas yang terbatas.

    Ditanya apakah benar dulunya ada Kerajaan Bataguh, Gauri tak berani berasumsi. Namun, ia memastikan di wilayah itu ada kuta atau benteng. Dari pengakuan warga setempat, benteng ini banyak mengalami kerusakan akibat kebakaran hutan besar di Bataguh pada tahun 1997 lalu. “Kita berencana akan melakukan uji karbon, sehingga nantinya akan diketahui umur barang yang ditemukan,” janjinya.

    Legenda Nyai Undang
    Darmandi, Damang atau Kepala Adat Bataguh, yang ikut dalam rekonstruksi area mengakui adanya Kerajaan Bataguh pada ratusan tahun yang lalu, sehingga pada 2013, Pulau Kupang (pemukiman purba), Kecamatan Bataguh, masuk dalam katalog benda cagar budaya atau situs Kalteng.

    “Dulunya di Bataguh ada kerajaan yang dipimpin seorang wanita cantik. Namanya Nyai Undang. Dia seorang raja yang cantik dan berambut panjang. Nyai Undang selain berani juga sakti,” kata Darmandi.

    Di lokasi Kuta Bataguh ditemukan tempat yang digunakan masyarakat untuk bernazar. Tempat itu berupa rumah kecil berukir gambar naga. Di kedua rumah kecil itu ada masyarakat yang menaruh sesajen. “Mereka yang datang ke sini ada yang dari Filipina, Singapura, Eropa, maupun dari Jawa. Kita tidak tahu dari mana mereka bisa menuju ke sini untuk bernazar. Padahal masyarakat Kapuas sendiri hanya sebagian yang tahu,” tambahnya.

    Untuk itu Darmandi meminta Pemkab Kapuas untuk menjaga dan melestarikan Kuta Bataguh di Pulang Kupang ini. Ini adalah satu-satunya meninggalan cagar budaya di Kabupaten Kapuas.

    Camat Bataguh Budi Kurniawan mengatakan, situs ini nantinya akan menjadi aset benda bersejarah. Kemudian dalam waktu dekat dari Dinas Pariwisata Provinsi Kalteng dan Balai Arkeologi Kalimantan datang ke tempat ini untuk melakukan pendalaman. Untuk itu dirinya meminta adanya fasilitas umum untuk menuju ke lokasi ini sebagai tempat wisata bersejarah.

    Camat Bataguh sempat mendatanggi dua warga sekitar yang menyimpan benda bersejarah, yakni di rumah Anto dan rumah Hj Siti Sainah.

    Di rumah Anto disimpan dua pengayuh yang terbuat dari ulin, gasing, pisau dari ulin, batu asahan, potongan rantai kapal maupun sumpit.

    Kemudian barang yang disimpan di rumah Hj Siti Sainah, seperti serbuk emas, gasing, biji pohon ulin, batu berukuran besar, kalung manik-manik, tutup dandang, sendok terbuat dari kuningan serta pipa untuk merokok. Menurut penuturan Siti Sainah, sejak menyimpan benda-benda itu ia sering kesurupan. “Seminggu bisa dua kali. Tapi setelah saya berhaji, sampai sekarang tidak pernah lagi kesurupan,” tutur dia. yuliansyah

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here