Melihat Perilaku Liar Alami Orangutan di Punggualas

    120
    orang utan katingan
    LIAR - Di Punggualas, Desa Karuing, Kecamatan Kamipang, Kabupaten Katingan masih bisa ditemui orangutan yang hidup liar. Tampak seekor orangutan yang hidup di hutan Punggualas.

    Tabengan.com – Orangutan merupakan sejenis kera besar dengan lengan cukup panjang dan berbulu yang hidup dan tinggal dihutan tropikan yang kini habitatnya tercancam punah akibat perluasan lahan perkebunan maupun pembabatan hutan. Di Kalimantan Tengah, khususnya di Kabupaten Katingan orangutan dijaga kelestariannya bahkan hidup bebas di hutan-hutan.

    Perilaku alami orangutan yang hidup bebas liar di hutan bukan dari hasil karantina bisa ditemui di Desa Karuing, Kecamatan Kamipang. Di sana, orangutan yang berjumlah sekitar 40 ekor sejak dulu hidup bebas di hutan yang kini dijadikan sebagai studi perilaku orangutan, pengamatan fenologi dan monitoring.

    Kawasan tersebut diberi nama Punggualas yang merupakan visitor center kerja sama antara masyarakat desa sekitar dengan World Wildlife Fund (WWF) dan Balai Taman Nasional Sebangau. Kawasan Punggualas bisa ditempuh dari ibu kota Katingan, Kasongan, sekitar dua jam melalui jalur darat yang dilanjutkan menggunakan perahu kecil hampir satu jam hingga sampai visitor center di mana terdapat base camp yang dijaga masyarakat lokal. Para tamu yang ingin melakukan penelitian bisa menginap di base camp tersebut.

    Sambutan ramah dari petugas WWF dan Balai Taman Nasional Sebangau diterima Tabengan ketika tiba di base camp visitor center, pekan lalu. Mereka menunjukkan, di hutan inilah para orangutan hidup bebas sejak dulu.

    Sekdes Karuing Bambang Hermanto yang menemani perjalanan menuturkan, banyak sekali dampak postif bagi masyarakat dengan adanya Ekowisata Punggualas, termasuk dampak ekonomi. Disebutkan, tiap bulan selalu ada peneliti yang datang, baik dari dalam maupun luar negeri.

    “Jika ada kunjunga kunjungan para wisatawan maka warga lokal yang dilibatkan sebagai guide serta menyediakan transportasi air juga sangat diperlukan. Dilihat dari segi potensi ekonomi, tentu sangat membantu sekali, dan masyarat kita sekarang sadar untuk menjaga kelestarian alam., Dulunya saat baru baru berdiri ekowisata, memang banyak pro dan kontra, namun setelah melihat banyak manfaatnya, masyarakat sadar ternyata hutan bukan untuk dibabat melainkan dilestarikan,” kata Bambang

    Jakie, Koorinator Simpul Wisata Desa Karuing, menambahkan, paket yang ditawarkan di ekowisata ini adalah wisata alam liar dan budaya lokal. Untuk wisata alam liarnya pengujung atau wisatawan bisa melihat habitat liar orangutan, kalasi, macan dahan, owa-owa dan berbagai jenis burung.

    “Ini merupakan habitat alami, bukan penangkaran, dan kami sudah melaksanakan paket wisata ini sejak 2010 silam. Cukup banyak wisatawan mancanegara maupun domestik yang datang setiap bulannya karena mereka ingin meneliti orangutan bagaimana dia tidur, setelah tidur bagaimana keseharaiannya, itu yang mereka teliti,” tutur Jakie.

    Sementara Asisten II Setda Katingan Ir Ahmad Rubama yang juga turun melihat lokasi wisata mengatakan, Pemerintah Daerah sangat menyambut baik kegiatan WWF bekerja sama dengan Taman Nasional Sebangau ini karena menyediakan tempat untuk melaksanakan penelitian penelitian termasuk masalah orangutan.

    Menurut Rubama, setelah melihat langsung wisata yang ditawarkan di Desa Karuing ini, ia akan meneruskan ke Dinas yang menangani masalah pariwisata, dengan harapan para wisatawan yang ingin berkunjung nantinya diberikan pelayanan dan kemudahan. “Ke depannya, pemerintah mungkin bisa mendukung sarana dan prasarana jalan tembus, dan sebagainya,” kata Rubama.

    Kepala Balai Taman Nasional Sebangau Ir Anggodo menuturkan, tugas pokok dan fungsi balai yang dipimpinnya adalah menjaga kelestarian kawasan. Balai Taman Nasional Sebangau menjadikan kawasan ini sebagai pusat penelitian lahan gambut untuk tingkat dunia. Termasuk menjaga keanekaragaman hayati, flora, dan fauna di dalamnya.

    “Itu role pertamannya. Sedangkan role model kedua dengan penetapan kawasan ini sebagai pusat penelitian sekaligus juga dekembangkan sebagai ekowisata dengan basis masyarat lokal. Wisatawan menuju ke tempat penelitian seperti penabatan, bisa dijadikan objek kunjungan wisata, dan melihat orangutan di dalam kawasan taman nasional yang jumlahnya sekitar 5.800 ekor yang hidup liar di habitat aslinya, dan itu tidak jinak,” terang Anggodo.

    Sementara itu WWF Kalteng Sebangau Project Leader Okta Simon menuturkan di lokasi lahan yang bergambut ini terdapat populasi atau habitat orangutan sehingga hutan yang ada ini juga bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar salah satunya dengan ekowisata ini.
    “Peran WWF ini untuk memfasilitasi masyarakat, dunia usaha, pengelola Taman Nasional Sebangau untuk mengembangkan hutan yang ada dan kelestarian hutan bisa terjaga tetapi manfaatnya bisa dirasakan masyarakat secara langsung,” kata Okta. suseno arianto

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here