Marak Pembuangan Bayi, Orangtua Diminta Awasi Pergaulan Anak

486
Bayi yang ditemukan, di sekitar perkebunan kelapa sawit, Blok 107 Divisi IIB Bedeng Utara PT BSK I
Bayi yang ditemukan, di sekitar perkebunan kelapa sawit, Blok 107 Divisi IIB Bedeng Utara PT BSK I

SAMPIT/Tabengan.com – Maraknya kasus pembuangan bayi yang terjadi akhir-akhir ini menjadi sorotan Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lentera Kartini Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Forisni Aprilista. “Jelas ini merupakan perbuatan oknum yang tidak bertanggungjawab. Ia berani berbuat tapi tak berani menanggung akibat dari perbuatannya.Ya kemudian itulah bisa terjadi hal itu (pembuangan bayi),” ungkapnya kepada Tabengan, Minggu (2/7).

Ia menganggap kurangnya pengawasan orangtua dan penanaman ilmu agama kepada anak menjadi faktor penyebab adanya aksi pembuangan bayi. Sebab aksi pembuangan bayi yang dilakukan tergolong keji seperti diletakkan di dalam bak sampah, di kloset toilet mall, dan paling terbaru di areal kebun sawit. Untuk penemuan yang terbaru, kondisi kulit bayi bentol-bentol karena sempat dikerubungi oleh semut besar. Padahal menurutnya apabila bayi tersebut diberikan ke orang lain tentu banyak saja yang meinginkan untuk merawatnya.

“Namun kalau sudah seperti itu kan merupakan tindakan orang yang tidak memiliki pikiran panjang. Dicampur dengan rasa panik makanya mereka asal saja membuang bayinya supaya tidak ketahuan oleh orang lain,” duganya.

Hal itu menurutnya, adalah dampak dari pergaulan bebas yang semakin marak dilakukan oleh anak-anak usia remaja. Dimana mereka melakukan hubungan seksual tanpa berpikir panjang, apa dampak dari kelakuannya tersebut. Serta secara emosi juga belum siap untuk bertanggungjawab atas apa yang telah dilakukan.

Ia menilai sangat diperlukan pemberian pemahaman kepada para orangtua yang terutama kemudian baru kepada anak-anak. Karena hal ini menyangkut masa depan generasi bangsa, apa jadinya negara atau daerah kita kalau generasi penerusnya semakin banyak yg mengabaikan nilai- nilai moral dan agama.

Dinas terkaitpun dinilainya kemungkinan belum menganggap masalah ini sebagai masalah yang serius, sehingga tidak dijadikan sebagai prioritas program.
“Hal ini tidak bisa dibiarkan dan tentunya harus menjadi perhatian serius dari semua,” ucapnya.c-may

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here